WELCOME

Senin, 26 April 2010

Pemgangangguran dan Inflasi



PENGANGGURAN DAN INFLASI

Menurut pandangan saya tentang inflasi dan pengangguran, kedua-duanya merupakan masalah yang serius. Karena pengangguran dan inflasi saling berkaitan. Pengangguran dan inflasi memiliki hubungan yang negatif, Artinya kalu hanya inflasi saja yang mendapat perhatian penuh itu akan menyebabkan pengangguran meningkat. Meningkatnya pengangguran dapat menghambat proses pembangunan suatu negara. Begitu juga sebaliknya jika pengangguran saja yang diperhatikan maka inflasi akan naik dan dapat menyebabkan terjadinya hiperinflasi, jika terjadinya hiperinflasi ekonomi, bahkan keamanan suatu negara akan terancam.

Menurut teori kuantitas, inflasi bakalan berhenti dengan sendirinya jika jumlah uang yang beredar tidak ditambah. Penambahan uang ibarat ‘bensin’ yang bakalan menyambar api inflasi. Selain itu dipengaruhi juga oleh harapan (ekspektasi) orang mengenai kenaikan harga dimasa mendatang. Ekspektasi orang ada 3 kemungkinan. Pertama, Ketika orang yang menganggap harga-harga tidak akan naik dimasa datang. Kalau begini, walaupun ada penambahan uang orang akan menyimpannya dan tidak membelanjakan untuk pembelian barang, orang akan merasa belum membutuhkan barang yang ingin dia beli. Jadi tidak ada demand yang meningkat, sehingga harga barang tidak naik secara signifikan. Ekspektasi kedua, adalah ketika orang mulai sadar bahwa ada inflasi. Penambahan jumlah uang bukan dianggap sebagai penambahan likuiditas masyarakat. Tapi orang akan menggunakannya untuk pembelian barang karena khawatir kalau tidak di belikan harga akan semakin meningkat dan berusaha menghindari kerugian yang timbul kalau tidak segera membeli barang. Jadi jika terjadi peningkatan uang sebanyak 10% bisa langsung mempengaruhi harga sebanyak misalnya 10% pula[1]

Ekspektasi lainnya adalah jika orang tidak percaya akan uang dan lebih menginginkan memegang barang. Nah hal ini terjadi jika keadaan sudah hiperinflasi. Indonesia pada tahun 1961 – 1966 pernah mengalami situasi seperti hal ini. Keadaan ini juga ditandai oleh semakin cepatnya perputaran uang (velocity of money). Sehingga jika terjadi penambahan 10% uang maka akan terjadi kenaikan harga lebih dari 10%. Kalau sudah sampai tahapan ini sosial, politik, ekonomi bahkan keamanan bakalan teracam dan negara bisa kacau.[2]

Menurut sukirno(2004:333) penyebab inflasi dapat dibedakan menjad tiga bentuk, yaitu :

1. Inflasi tarikan permintaan, inflasi ini biasanya terjadi ketika perekonomian sedang berkembang pesat.

2. Inflasi desakan biaya, inflasi ini juga terjadi ketika perekonomian sedang berkenbang pesat dan tingkat pengangguran sangat rendah

3. Inflasi diimpor, inflasi ini terjadi apabila barang-barang yang diimpor mengalami kenaikkan harga yang mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran di perusahaan-perusahaan. Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dari tingkat harga secara umum. Kalangan monetrarist menganggap bahwa untuk menstabilkan harga-harga pertumbuhan jumlah uang yang beredar harus di kontrol secara hati-hati. Namun hal ini sulit diimplementasikan, karena hubungan antara ukuran-ukuran uang beredar yang diidentifikasikan oleh kalangan-kalangan monetaris dengan tingkat inflasi biasanya rusak setelah pengambil keputusan menargetkan inflasi itu. Ekonomi aliran Keynesian yakin bahwa inflasi bisa terjadi terlepas dari pengaruh kondisi moneter.

Hubungan Inflasi dan pengangguran di jelaskan dengan grafik kurva Phillips (Original Phillips Curve) kurva ini merupakan hasil studi empiris yang menggabungkan perilaku upah dan inflasi dengan tingkat pengangguran di Inggris pada tahun 1861 – 1957.[3]

Hubungan Inflasi dengan Pengangguran yang di Gambarkan Berdasarkan

Kurva Phillips











Kurva ini mengisyaratkan bahwa tingkat pengangguran yang rendah hanya biasa dicapai dengan merelakan tingkat inflasi yang tinggi, demikian pula sebaliknya inflasi yang rendah hanya bias dicapai dengan merelakan tingkat pengagguran yang tinggi. Dengan kata lain kurva ini menggambarkan adanya trade-off antar inflasi dengan pengangguran.

Berdasarkan kurva yang di gambar diatas dapat disimpulkan bahwa Pengangguran dan Inflasi merupakan masalah yang sama seriusnya diatasi dalam meningkatkan pembangunan ekonomi. Pengangguran dan Inflasi tidak bisa dipandang sebelah mata saja oleh pemerintah artinya kedua masalah tersebut harus diatasi dengan serius.

Dampak buruk dari pengangguran terhadap perekonomian adalah:[4]

  1. Pengangguran menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimumkan tingkat kesejahtearaan yang dicapai. Pengangguran menyebabkan autput aktual yang dicapai lebih rendah atau berada dibawah output potensial
  2. Pengangguran menyebabkan pendapatan pajak (tax revenue) pemerintah berkurang. Dengan demikian, tingkat pengangguran yang tinggi akan mengurangi kemampuan pemerintah dalam menjalankan kegiatan pembangunan
  3. Pengangguran yang tinggi akan menghambat, dalam arti tidak akan menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Pengangguran akan menimbulkan dua akibat buruk pada sektor swasta, pertaman, pengangguran tenaga kerja biasanya akan diikuti pula dengan kelebihan kapasitas mesin-mesin perusahaan. Keadaan ini jelas tidak akan mendorong perusahaan untuk melakukan investasi di masa yang akan datang. Kedua, pengangguran yang timbul sebagai akibat dari kelesuan kegiatan perusahaan menyebabkan keuntungan berkurang.

Jadi dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa kedua fenomena ekonomi yaitu pengangguran dan inflasi merupakan masalah ekonomi yang sama seriusnya untuk di atasi. Kedua permasalahan ini tidak dapat dihilangkan dalama suatu permasalah ekonomi suatu negara. Yang perlu dilakukan sekarang ini adalah menekan tingkat pengangguran dan inflasi seminimal mungkin. Karna mustahil tingkat inflasi dan pengangguran 0%. Inflasi dan pengangguran dua masalah ekonomi yang tidak bisa dibiarkan meningkat. Karena jiaka kedua fenomena ini dibiarkan meningkat ekonomi bahkan keamanan dan kesejahteraan suatu negara akan kacau. Kalau inflasi dibiarkan akan menyebabkan terjadinya hiperinflasi, begitu pula dengan pengangguran jika di biarka akan berdampak negatif pada negara dan masyarakat, yaitu pendapatan pajak berkurang sehingga menghambat pemerintah untuk meningkatkan pembangunan. Pengangguran menyebabkan hilangnya mata pencaharian, kestabilan sosial dan politik.

Saya menyarankan pemerintah harus tingkatkan perhatiannya terhadap dua masalah ekonomi. Seperti mengurangi jumlah uang yang beredar dan menambah lapangan pekerjaan.

Sumber :

http://triatmono.wordpress.com/2008/09/30/penyebab-inflasi-menurut-teori-kuantitas/

http://cari-pdf.com/download/index.php?name=hubungan%20antara%20inflasi%20dan%20indeks%20harga%20menurut%20para%20ahli&file=elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ekonomi_uang_dan_bank/bab_6_inflasi

Nanga Muana, MakroEkonomi Teori, Masalah dan Kebijakan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 254 – 255

Jumat, 23 April 2010

INDONESIAN - PAKISTAN – Buruh anak di pembakaran bata bisa sekolah

HALLOKI, Pakistan (UCAN) — Selama hampir satu dekade, beberapa anak yang menjadi buruh di tempat pembakaran bata di Keuskupan Agung Lahore hanya bisa menghadiri kelas informal di bawah pohon beringin.

Sekarang, berkat sebuah kongregasi religius, mereka akhirnya dapat menghadiri kelas formal di sebuah gedung yang layak.

“Selama sembilan tahun, kami mengadakan kelas di bawah pohon beringin tua berusia 100 tahun dan di sebuah gereja Katolik. Staf, bersama anak-anak, mengalami semua jenis cuaca, tetapi pantang menyerah dalam misi mereka,” kata Suster Michelle McHale, pemimpin komunitas Suster-Suster St. Yohanes dari Allah (SJG, St. John of God) di sini.

Misionaris asal Irlandia, yang telah bekerja di Pakistan sejak tahun 1980, itu berbicara dengan UCA News pada Misa syukuran 6 Maret untuk merayakan pembukaan Sekolah Dasar St. Lukas.

Sekolah, yang terletak di Halloki, sebuah desa sekitar 40 kilometer barat Lahore, itu merupakan sekolah formal pertama yang dikelola Gereja untuk melayani anak-anak dari dari para buruh di pembakaran bata di keuskupan agung itu.

Serikat Buruh Bata Pakistan memperkirakan bahwa ada sekitar 2 juta buruh bata di negara itu, sebagian besar dari mereka adalah orang Kristen miskin. Sekitar 35 persen dari mereka adalah perempuan dan 40 persen anak-anak.

”Anda dapat mengubah masa depan”

“Tempat ini adalah berkat Tuhan,” kata Uskup Auksilier Lahore Mgr Sebastian Shah dalam homilinya pada Misa itu. “Ini merupakan tanah kosong sebelum tetapi para misionaris kita melihat apa yang tidak dilihat orang lain dan mengulurkan tangan di mana orang lain tidak bisa.”

Dia mendesak masyarakat setempat untuk mengirim anak mereka ke sekolah. “Anda telah mengalami betapa kerasnya kehidupan ini, tetapi Anda dapat mengubah masa depan,” katanya.

Lebih dari 300 orang menghadiri Misa yang diadakan di kompleks bangunan sekolah yang baru dibangun itu.

Uskup Syah mengatakan kepada UCA News bahwa karena industri pembakaran bata itu “liar,” maka “para buruh diupah sangat rendah.”
“Mereka sering mengambil pinjaman jangka panjang dan seluruh hidupnya mereka habiskan untuk melunasi pinjaman ini. Hanya pendidikan bisa mengentaskan mereka dari pekerjaan yang mengikat ini.”

Menurut Suster McHale, lima novis SJG membantu staf sekolah.

Sekolah yang didanai oleh Misean Cara, organisasi pembangunan misioner yang berpusat di Irlandia, itu juga mengadakan kelas malam untuk anak-anak kelas enam ke atas.

“Kami mulai dengan program-program kesehatan di daerah ini, tetapi kemudian memusatkan perhatian pada pendidikan,” kata suster itu.

Kini, tarekatnya juga mengelola sebuah sekolah informal di sebuah ruang kecil di tempat pembakaran bata, beberapa kilometer dari Halloki.

Ratusan siswa sekarang ini, kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga-keluarga buruh, belajar di berbagai sekolah informal di berbagai pinggiran kota di Keuskupan Agung Lahore. Ada 15 sekolah semacam ini yang dikelola oleh seorang imam Kapusin asal Belgia.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia berbasis Katolik telah mengeluh bahwa para buruh pembakaran bata hidup “terasing” di negeri ini tanpa kartu identitas atau jaminan sosial dan tunjangan kesehatan seperti yang dinikmati pegawai pemerintah.