HALLOKI, Pakistan (UCAN) — Selama hampir satu dekade, beberapa anak yang menjadi buruh di tempat pembakaran bata di Keuskupan Agung Lahore hanya bisa menghadiri kelas informal di bawah pohon beringin.
Sekarang, berkat sebuah kongregasi religius, mereka akhirnya dapat menghadiri kelas formal di sebuah gedung yang layak.
“Selama sembilan tahun, kami mengadakan kelas di bawah pohon beringin tua berusia 100 tahun dan di sebuah gereja Katolik. Staf, bersama anak-anak, mengalami semua jenis cuaca, tetapi pantang menyerah dalam misi mereka,” kata Suster Michelle McHale, pemimpin komunitas Suster-Suster St. Yohanes dari Allah (SJG, St. John of God) di sini.
Misionaris asal Irlandia, yang telah bekerja di Pakistan sejak tahun 1980, itu berbicara dengan UCA News pada Misa syukuran 6 Maret untuk merayakan pembukaan Sekolah Dasar St. Lukas.
Sekolah, yang terletak di Halloki, sebuah desa sekitar 40 kilometer barat Lahore, itu merupakan sekolah formal pertama yang dikelola Gereja untuk melayani anak-anak dari dari para buruh di pembakaran bata di keuskupan agung itu.
Serikat Buruh Bata Pakistan memperkirakan bahwa ada sekitar 2 juta buruh bata di negara itu, sebagian besar dari mereka adalah orang Kristen miskin. Sekitar 35 persen dari mereka adalah perempuan dan 40 persen anak-anak.
”Anda dapat mengubah masa depan”
“Tempat ini adalah berkat Tuhan,” kata Uskup Auksilier Lahore Mgr Sebastian Shah dalam homilinya pada Misa itu. “Ini merupakan tanah kosong sebelum tetapi para misionaris kita melihat apa yang tidak dilihat orang lain dan mengulurkan tangan di mana orang lain tidak bisa.”
Dia mendesak masyarakat setempat untuk mengirim anak mereka ke sekolah. “Anda telah mengalami betapa kerasnya kehidupan ini, tetapi Anda dapat mengubah masa depan,” katanya.
Lebih dari 300 orang menghadiri Misa yang diadakan di kompleks bangunan sekolah yang baru dibangun itu.
Uskup Syah mengatakan kepada UCA News bahwa karena industri pembakaran bata itu “liar,” maka “para buruh diupah sangat rendah.”
“Mereka sering mengambil pinjaman jangka panjang dan seluruh hidupnya mereka habiskan untuk melunasi pinjaman ini. Hanya pendidikan bisa mengentaskan mereka dari pekerjaan yang mengikat ini.”
Menurut Suster McHale, lima novis SJG membantu staf sekolah.
Sekolah yang didanai oleh Misean Cara, organisasi pembangunan misioner yang berpusat di Irlandia, itu juga mengadakan kelas malam untuk anak-anak kelas enam ke atas.
“Kami mulai dengan program-program kesehatan di daerah ini, tetapi kemudian memusatkan perhatian pada pendidikan,” kata suster itu.
Kini, tarekatnya juga mengelola sebuah sekolah informal di sebuah ruang kecil di tempat pembakaran bata, beberapa kilometer dari Halloki.
Ratusan siswa sekarang ini, kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga-keluarga buruh, belajar di berbagai sekolah informal di berbagai pinggiran kota di Keuskupan Agung Lahore. Ada 15 sekolah semacam ini yang dikelola oleh seorang imam Kapusin asal Belgia.
Organisasi-organisasi hak asasi manusia berbasis Katolik telah mengeluh bahwa para buruh pembakaran bata hidup “terasing” di negeri ini tanpa kartu identitas atau jaminan sosial dan tunjangan kesehatan seperti yang dinikmati pegawai pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar